Umar bin khatab



Kisah seorang khalifah yang tegas dalam menegakkan keadilan namun berhati lembut kepada anak yatim dan orang miskin
Umar al faruq itu sebutannya,kita lebih mengenalnya sebagai umar ibnu khatab.beliau salah satu sahabat rosul yang sangat disegani baik bagi kaum muslimin dan juga bagi musuh islam.Pada saat Umar bin khatab di daulat sebagai khalifah dia menangis menerima jabatan ini,kenapa kok menangis?mungkin begitu yang ada dalam benak kita.Umar merasa memikul tanggung jawab yang begitu besar saat didaulat menjadi khalifah,beda mungkin dengan akhir2 ini.begitu banyak pejabat yang berlomba-lomba menghabiskan uangnya untuk mencari
kedudukan(pemimpin).salah kalau kita beranggapan pada masa amirul mukminin (umar bin khatab) ini hidupnya penuh dengan kekayaan yang melimpah ruah,istana yang megah ,dan semua serba mewah.namun sebaliknya beliau adalah seorang pemimpin yang terakir merasakan kenyang setelah rakyatnya merasakan kenyang,beliau orang yang pertama merasakan lapar sebelum rakyatnya lapar.beliau adalah orang yang terdepan dalam memperjuangkan hak-hak rakyatnya (orang-orang miskin).beberapa kisah mungkin akan membuat kita lebih mengenal sosok ini.
di mesir ada seorang gubernur yang ingin memperluas masjid karena masjid tersebut terlalu kecil untuk sholat berjamaah karena mulai banyaknya penduduk di wilayah tersebut.namun ada satu masalah yang dihadapi oleh gubernur ini karena di pinggir masjid tersebut ada seorang pemuda non muslim yang tidak mau untuk menyerahkan tanahnya untuk perluasan masjid tersebut.sang gubernur bahkan memberi atau membeli tanah tersebut dengan harga yang tinggi,namun pemuda tersebut tetap tidak mau menjual ataupun menyerahkan tanahnya.sang gubernur marah dan mengancam membongkar rumah tersebut dengan paksa.pemuda tersebut tidak tinggal diam dan akan melaporkan hal tersebut kepada amirul mukminin.sang gubernur tersenyum lebar dan berkata katakanlah permasalahan ini pada amirul mukminin nisacaya dia akan mendukungku membongkar rumahmu.akirnya sang pemuda menemui khalifah umar bin khatab.namun saat dia berjalan ke tempat tersebut tidak dilihatnya istana yang mewah penjaga atau tentara yang banyak yang bahkan dibenaknya sempat terfikirkan mungkin salah alamat.setelah berjalan lama mencari amirul mukminin tibalah dia pada seorang yang bertubuh tinggi,agak kurus,bajunya kusut dan penuh dengan tambalan kain yang sedang duduk di bawah pohon kurma.lalu pemuda itu bertanya: ” wahai tuan dimanakah saya dapat menemuhi khalifah kaum muslimin?”
umar menjawab: ” untuk apa kamu mencarinya”? tanya umar dengan tegas pada pemuda tersebut
Pemuda:” aku ingin melaporkan gubernur mesir yang bersifat tidak adil padaku”.
Umar : ” akulah Umar bin khatab.”
pemuda : ” tidak mungkin ,khalifah pasti mempunyai istana yang megah,pasukan yang banyak,serta harta yang melimpah”.tekasnya
Umar :” inilah aku amirul mukminin” istanaku adalah dibawah pohon kurma,prajuritku adalah anak yatim dan janda-janda miskin,dan hartaku adalah pakaianku yang kupakai ini”.
setelah itu terjadi percakapan yang begitu serius antara umar dan pemuda tersebut.lalu umar bin khatab menyuruh pemuda itu mencari bangkai tulang unta.sang pemuda bingung dengan perintah tersebut namun ia tetap melaksanakan perintahnya.setelah menemukan yang dimaksud umar dan kemudian memberikannya pada umar sang khalifah memberi garis lurus pada tulang tersebut dengan menggunakan pedangnya.kemudian menyuruh pemuda tersebut memberikannya pada sang gubernur .sang pemuda semakin bingung.lalu kembalilah dia ke mesir menemui gubernur dan menceritakan perihal pengaduannya ke khalifah serta memberikan tulang tersebut ke gubernur. lalu gubernur menerimanya dan saat melihat goresan pedang di tulang itu gubernur langsung tersungkur kebawah dengan keaadaan badan gemetar dan lemas.sang pemuda semakin bingung melihat hal itu. kemudian dia bertanya pada gubernur apakah gerangan yang membuat gubernur lemas.sang gubernur menceritakan maksud amirul mukminin mengirimkan bangkai tulang unta yang diasat pedang kepada dirinya adalah sebagai isyarat bila dia tidak lurus (adil) seperti garis itu maka khalifah akan meluruskannya sendiri dengan pedangnya (akan memberi hukuman yang berat).pemuda itu sungguh kaget luar biasa terhadap amirul mukmini dan tanpa menunggu lama ia menyatakan diri masuk agama islam dan menyerahkan rumah tersebut ke gubernur untuk perluasaan masjid.wallahu a’lam bisowab

0 Responses